Terseret Lembu, Berkah Dan Lahan Bertambah

Poniman sedang menuntun kedua lembunya ketika terdengar suara yang memekakkan telinga. Lembu-lembunya berlari seketika itu juga. Sementara ia yang berdiri di antara keduanya tidak dapat meloloskan diri dari naluri pertahanan diri lembu-lembu yang digembalakannya itu. Kedua kakinya tersangkut tali dari kayu yang menahan kedua lembu agar berjalan beriringan. Tubuhnya terhempas ke belakang.

Sementara lembu-lembu berlari, ia terseret dalam posisi terlentang. Baju lusuh yang dikenakannya serta punggung tegapnya habis terparut bebatuan tajam seukuran kepalan tangan lelaki dewasa sepanjang lembu-lembunya berlari. Kedua telapak tangannya menahan kepala bagian belakang agar tidak ikut terluka. Namun, kaki serta tangannya tidak luput dari gerusan itu.

Nisya’ Tri Yolanda dan Poniman

Setiap pagi usai membersihkan diri dan menunaikan salat subuh, Poniman mengurus unggas peliharaannya. Sejenak kemudian, pria yang memiliki seorang istri dan empat orang anak ini menikmati sarapan secukupnya. Setelah itu ia menuju ladang miliknya yang berjarak sekitar satu kilometer dari rumah. Ia pulang pada tengah hari ketika azan zuhur berkumandang. Biasanya ia baru kembali ke ladang keesokan paginya. Namun seringkali ia perlu kembali ke ladang pada hari yang sama, segera setelah beristirahat sejenak, untuk menyelesaikan pekerjaan tertentu.

Poniman memikul cangkul di pundak. Pada tangannya tergenggam gagang cangkul itu sekaligus lipatan karung berwarna putih bekas tepung terigu. Karung ini untuk menampung rumput yang ia kumpulkan untuk dimakan dua ekor lembu yang ia pelihara di sebuah kandang yang menempel pada dinding bagian belakang rumahnya.

Pada jari-jari tangannya yang lain melingkar kantong plastik. Air mineral dalam sebuah botol bekas serta rantang berisi makanan yang ia bawa dari rumah terlihat samar bergerak-gerak di dalamnya mengikuti ayunan tangan ketika ia berjalan. Bekal sederhana inilah yang selalu menemani perjalanannya merawat ladang dan mengumpulkan rerumputan.

Enam petak ladang berbentuk persegi panjang miliknya menyembul dengan rendah hati di tepi jalan makadam tempatnya terbawa lari oleh lembu-lembunya yang terkejut empat puluh tahun yang lalu. Masing-masing petak dilindungi oleh lembaran tabir yang hangat dan kuat.

Kerangka bambu disusun mengelilingi setiap petak. Rangkaian bambu yang berbentuk prisma terhubung dengan bagian atas kerangka yang tegak mengitarinya. Lembaran plastik melingkupinya pada atap dan kedua sisi terpanjang. Dua sisi terpendek sengaja dibiarkan terbuka agar sirkulasi udara tidak terganggu. โ€œKalau kepanasan, nggak bisa. Terlalu banyak kena air, juga nggak bisa,โ€ jelasnya.

Bayam, kangkung, sawi, selada dan tomat tampak mewarnai ladang-ladang itu selama lima belas tahun terakhir. Seluruhnya ditanam secara organik. Yang telah dipanen dibawa ke rumah untuk dikemas ke dalam plastik ukuran seperempat kilogram. Setiap bungkusnya berharga Rp 8.000 untuk setiap jenis sayur. Konsumennya adalah warga perkotaan, seperti Surabaya dan Malang. Istri dan dua orang anak yang masih tinggal bersamanyalah yang mengatur urusan pengemasan dan distribusinya.

Poniman dilahirkan dan tinggal di Mligi, sebuah dusun yang masuk ke dalam wilayah dataran tinggi Claket, Pacet, Mojokerto, Jawa Timur, hingga kini. Sejak kecil ia terbiasa membantu keluarganya bercocok tanam. Selain warisan dari orangtuanya yang menjadi ladang bagi sayuran organik tersebut, ia juga memiliki beberapa ratus meter persegi lahan lain yang belum lama ia beli dari uang yang ia kumpulkan sedikit demi sedikit selama tujuh puluh lima tahun hidupnya.

Ia masih lincah berjalan naik dan menuruni bukit, melompati gundukan tanah, parit maupun lubang-lubang besar pada pematang sawah dan menyeberangi sungai dengan dua batang bambu sebagai jembatan. Keriput yang terukir pada wajahnya, ayunan jabat tangan serta permukaan kasar telapak kaki dan tangannya mengalir nilai-nilai syukur yang tidak dipaksakan. Setiap orang memiliki pemaknaan yang berbeda mengenai kebahagiaan. Bagi Poniman, kunci utama kebahagiaan adalah dapat bekerja dengan baik dan pandai merasa cukup.

Nisyaโ€™ Tri Yolanda
Claket, 28 April 2019

Comments (2)

  1. purwadi jaya

    ๐Ÿ‘๐Ÿ‘

  2. Dannis Seniar Yullea Paripurna

    Tulisannya bagus ๐Ÿ‘

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: